Minggu, 21 Juli 2019
Benarkah kalau pria zaman sekarang mental tempe ?
Beberapa tahun lalu saat saya masih mahasiswa baru, waktu itu kegiatan ospek universitas, saya lupa kegiatan apa waktu itu yamg sedang dilaksanakan, dalam ruangan tiba tiba seorang wanita aneh naik keatas panggung, berbicara dengan mikrofon.
Saya juga lupa dengan apa yang dia katakan, saya hanya ingat saat dia berbicara : "lelaki zaman sekarang MENTAL TEMPE". Sontak seisi ruangan berteriak menyoraki wanita itu. Saya pun geleng geleng kepala, dalam hati saya mungkin dia frustasi atau galau karna lelaki.
Dan ketika ospek program studi, saya terkejut karna wanita itu ternyata satu prodi sama saya, dan nomor induk kami berdekatan sehingga kami sering satu kelompok tugas. Singkat cerita kami jadi berteman dekat, dan dia termasuk salah satu sahabat dekat saya dikelas, dia juga termasuk orang yang berjasa dalam pembuatan skripsi saya, thank you om (om adalah panggilan akrab kami untuknya hahaha)
Dalam kehidupan kita tentu menemui masalah, nah bagaimana sikap kita terhadap masalah yang menimpa kita ?
Ada yang galau berlebihan, putus asa, frustasi, mabuk mabukan, hingga bunuh diri.
Saya sering menemui orang seperti ini, ketika ditimpa masalah, mereka frustasi, galau, mabuk, kacau seperti tidak ada lagi semangat hidup. Saat melihat hal ini tiba-tiba saya teringat kata kata teman saya tadi kalau "lelaki zaman sekarang mental tempe".
Beberapa bulan yang lalu menchat kawan saya tersebut, dia saat ini jadi dosen di daerah jogjakarta, saya menanyakan tentang apa maksudnya tentang "mental tempe" tersebut.
Persis seperti yang saya terjemahkan kalau maksud dia dengan lelaki bermental tempe itu adalah lelaki yang menganggap masalah yang dihadapi adalah masalah terbesar didunia, orang yang sering galau, putus asa saat ditimpa masalah, gampang menyerah, suka pesimis, diremehkan dikit langsung down.
Pada postingan saya sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang pentingnya tanggung jawab saat menemui masalah, bukan malah bergalau ria. Karna pria sebagai pemimpin harus bermental baja, bukan malah bermental tempe.
"Ayahku selalu berkata padaku, laki laki tak boleh nangis, HARUS SELALU KUAT, HARUS SELALU TANGGUH, HARUS BISA JADI TAHAN BANTING" (The Lucky Laki ~ Superman)
Sabtu, 20 Juli 2019
Sudah bisakah memimpin dirimu sendiri ?
Leadership, suatu keterampilan yang sangat sangat penting untuk menunjang kesuksesan dalam berbagai lini kehidupan, terutama untuk kaum pria, karena pria terlahir sebagai pemimpin.
Banyak buku atau pun pelatihan pelatihan baik formal ataupun nonformal yang membahas tentang kepemimpinan atau leadership ini., tapi seberapa banyak peserta yang benar-benar sudah berhasil jadi pemimpin yang baik, terutama pemimpin untuk dirinya sendiri ?
Saya sendiri masih dalam tahap belajar dari beberapa buku yang saya baca atau pun dari pelatihan pengembangan diri yang pernah saya ikuti.
Salah satu pilar leadership adalah mengambil keputusan,. Namun, dalam beberapa kasus saya sering menemui orang yang tidak berani mengambil keputusan dalam hidupnya, seperti :
-Beberapa orang lebih memilih hidupnya diatur oleh orang lain, daripada mengambil keputusan yang tentunya untuk kebaikannya sendiri.
-beberapa orang terlalu banyak bertanya pendapat orang lain saat dia berada dalam beberapa pilihan, dimana dia tidak berani memilih karna takut salah.
-beberapa pemimpin suatu kelompok sering berkata "terserah kalian" saat kelompoknya bertanya sesuatu.
-beberapa anak tidak berani berpendapat dan mangut mangut saja dengan apa pun pilihan orang tuanya yang seringkali bertentangan dengan kehendaknya.
Selain harus berani mengambil keputusan, pemimpin (khususnya pria) juga harus bisa mempertanggung jawabkan keputusan yang dia pilih.
Pada beberapa kasus saya sering menemui orang yang ketika menghadapi masalah yang padahal masalah itu ada karna keputusannya sendiri, dia lebih suka menyalahkan orang lain atas masalahnya tersebut, bahkan yang paling parah orang tersebut memilih kabur atau lari dari masalah tersebut.
Beberapa bulan yang lalu saat saya memutuskan berhenti bekerja, banyak pihak dari keluarga yang menentang keputusan saya, saat terjadi adu argumen saya pun dengan lantang mengatakan saya akan bertanggung jawab atas pilihan saya tersebut. Langkah saya selanjutnya adalah saya memulai berbisnis dan saat bisnis saya belum berhasil saya menghidupi diri saya dari tabungan yang sudah saya siapkan sebelum resign. Saya tidak langsung resign tapi mempersiapkan diri dulu berupa tabungan dan baca baca buku bisnis karna saya tau saya harus bertanggung jawab atas diri saya dan atas pilihan saya tersebut.
Pada akhirnya kesimpulan artikel ini adalah : "kamu ambil keputusan untuk dirimu sendiri, kamu harus tanggung jawab, jangan nyalah-nyalahin org apalagi lari dari masalah yang kamu dihadapi".
Banyak buku atau pun pelatihan pelatihan baik formal ataupun nonformal yang membahas tentang kepemimpinan atau leadership ini., tapi seberapa banyak peserta yang benar-benar sudah berhasil jadi pemimpin yang baik, terutama pemimpin untuk dirinya sendiri ?
Saya sendiri masih dalam tahap belajar dari beberapa buku yang saya baca atau pun dari pelatihan pengembangan diri yang pernah saya ikuti.
Salah satu pilar leadership adalah mengambil keputusan,. Namun, dalam beberapa kasus saya sering menemui orang yang tidak berani mengambil keputusan dalam hidupnya, seperti :
-Beberapa orang lebih memilih hidupnya diatur oleh orang lain, daripada mengambil keputusan yang tentunya untuk kebaikannya sendiri.
-beberapa orang terlalu banyak bertanya pendapat orang lain saat dia berada dalam beberapa pilihan, dimana dia tidak berani memilih karna takut salah.
-beberapa pemimpin suatu kelompok sering berkata "terserah kalian" saat kelompoknya bertanya sesuatu.
-beberapa anak tidak berani berpendapat dan mangut mangut saja dengan apa pun pilihan orang tuanya yang seringkali bertentangan dengan kehendaknya.
Selain harus berani mengambil keputusan, pemimpin (khususnya pria) juga harus bisa mempertanggung jawabkan keputusan yang dia pilih.
Pada beberapa kasus saya sering menemui orang yang ketika menghadapi masalah yang padahal masalah itu ada karna keputusannya sendiri, dia lebih suka menyalahkan orang lain atas masalahnya tersebut, bahkan yang paling parah orang tersebut memilih kabur atau lari dari masalah tersebut.
Beberapa bulan yang lalu saat saya memutuskan berhenti bekerja, banyak pihak dari keluarga yang menentang keputusan saya, saat terjadi adu argumen saya pun dengan lantang mengatakan saya akan bertanggung jawab atas pilihan saya tersebut. Langkah saya selanjutnya adalah saya memulai berbisnis dan saat bisnis saya belum berhasil saya menghidupi diri saya dari tabungan yang sudah saya siapkan sebelum resign. Saya tidak langsung resign tapi mempersiapkan diri dulu berupa tabungan dan baca baca buku bisnis karna saya tau saya harus bertanggung jawab atas diri saya dan atas pilihan saya tersebut.
Pada akhirnya kesimpulan artikel ini adalah : "kamu ambil keputusan untuk dirimu sendiri, kamu harus tanggung jawab, jangan nyalah-nyalahin org apalagi lari dari masalah yang kamu dihadapi".
Minggu, 14 Juli 2019
Tujuan hidupku adalah...
Beberapa waktu yang lalu, saat saya mengikuti online course pengembangan diri, kami diberi tugas yaitu :
"tuliskan visi dan misi yang ingin kamu raih dalam hidup, dan bagaimana cara kamu meraihnya?"
Saya kemudian merenung sebentar dan kemudian menuliskan bahwa keinginan saya sejak lama adalah ingin meraih Financial freedom dan Time freedom.
Financial freedom yaitu saat saya bisa membeli apa pun yang saya inginkan tanpa saya harus melakukan penghematan. Financial freedom bisa juga diartikan dengan kekayaan. Semua orang ingin menjadi kaya, caranya bisa dengan bekerja atau pun berbisnis. Beberapa tahun terakhir saya banyak baca buku dan ikut acara tentang keuangan, investasi ,dan bisnis. Hal itu saya lakukan sebagai aksi nyata bahwa saya benar benar menginginkan financial freedom, saya tidak hanya berkhayal tapi saya benar benar melakukan aksi nyata dan saya yakin saya akan sukses.
Time freedom atau kebebasan waktu adalah saat saya bebas menggunakan waktu sesuai dengan apa yang saya inginkan. Ssya bebas melakukan apa pun dan kapan pun tanpa diganggu.
Hal ini tidak saya dapatkan saat saya bekerja. Setelah merasa cukup dengan segala pencapaian saya sebagai karyawan, saya memutuskan untuk berhenti bekerja disebuah lembaga pemerintahan setelah 4 tahun mengabdi, selain itu saya juga menolak bekerja diperusahaan dengan gaji lebih dari 2x lipat dari pekerjaan saya sebelumnya.
Keputusan yang ditentang oleh orang tua saya. Saat terjadi adu argumen saya berkata bahwa "saya adalah pemimpin atas diri saya, ini pilihan saya dan saya akan mempertanggung jawabkan pilihan saya ini".
Dan sekarang saya memutuskan untuk merintis usaha, selain itu saya juga berinvestasi di properti dan pasar saham. saya benar-benar ingin meraih freedom yang saya impikan itu.
Saya ingin time freedom karna saya ingin lebih dekat dengan keluarga saya nanti, saya ingin sering menghabiskan waktu bersama, entah itu dirumah atau liburan bersama. Kedua orang tua saya adalah PNS jadi jarang ada waktu untuk anak-anaknya, makan siang bersama full satu keluarga dalam satu meja adalah hal yang sangat langka dalam hidup saya, saya tidak ingin hal ini ada dikeluarga saya nanti. Karna itu saya lebih memilih jadi entrepreneur, menurut saya financial freedom dan time freedom jadi lebih dekat kalau saya jadi pengusaha. Saya punya target diusia 30 saya harus sudah meraih kedua hal tersebut, saya ingin bebas menghabiskan waktu bersama keluarga. Saya ingin bebas pergi liburan kemanapun dan kapanpun. Menurut saya "Lebih baik jadi org bebas daripada jadi orng penting".
Saya ingin banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, saya ingin melihat perkembangan keluarga kami. Saya ingin banyak waktu untuk memperhatikan agama anak-anak saya nanti. Saya senang dan sering terkagum ketika melihat orang tua mengajak anaknya yang masih balita untuk shalat berjamaah dimushala dekat tempat tinggal saya, dalam hati saya bergumam saya ingin melakukan seperti itu juga nantinya.
Saya ingin banyak mengunjungi tempat-tempat baru bersama keluarga saya nanti. Harapan saya dimasa depan, misal anak saya sudah besar dan diajak teman-temannya jalan-jalan kesuatu kota, dia akan berkata dengan bangga kalau dia sudah pernah kekota tersebut bersama ayah dan ibunya.
Selain dua freedom diatas saya juga pengen jadi orang yang lebih berguna untuk orang banyak, saya harap nanti saya bisa banyak mempekerjakan orang-orang disekitar saya dan bisa membantu meningkatkan taraf kehidupan mereka.
Saya ingin banyak berbuat baik, saya ingin banyak berbagi, saya ingin menjadi pemimpin keluarga dan pemimpin perusahaan yang baik.
Saya ingin pada saat saya dimakamkan nanti banyak orang yang datang, mengenang dan berbisik bahwa almarhum (saya) adalah orang yang baik dan sering membantu mereka.
Yaa itu lah visi misi kehidupan saya, sengaja saya tulis supaya tidak mudah lupa. Saya berharap semuanya bisa dicapai secepatnya.
Jumat, 28 September 2018
JANGAN MENUNGGUKU DIPUNCAK ??
JANGAN MENUNGGUKU DIPUNCAK, TAPI TEMANILAH AKU MENDAKI !
sebuah kalimat yang manis, indah, kalimat ini sering saya lihat digunakan oleh para pria, kadang untuk seorang teman dan lebih sering lagi kallimat ini digunakan para lelaki kepada para wanita.
jangan menunggu dipuncak, tapi temanilah aku mendaki, maksud mereka adalah jangan hanya mau bersama mereka saat mereka sudah berjaya tapi bersama mereka lah saat mereka berproses.
pertanyaannya, berapa banyak pria yang tetap setia saat sudah berada dipuncak ?
saya sangat setuju dengan kalimat "JANGAN PERNAH LEPASKAN DIA YANG MENEMANIMU DALAM PROSES PENDAKIAN" karena ini tandanya kesetiaan, entah itu untuk teman atau untuk kekasih.
saya hanya kurang setuju dengan kalimat "JANGAN MENUNGGUKU DIPUNCAK, TAPI TEMANILAH AKU MENDAKI !" yang digunakan para pria kepada wanita nya agar wanitanya tetap bersamanya yang saat itu masih belum sukses. Namun dari banyak orang yang berlindung dikalalimat ini, tidak banyak juga yang benar-benar mendaki atau benar benar berproses menuju sukses. kebanyakan orang menggunakan kalimat ini hanya agar terlihat keren, dewasa atau apapun, yang mana saat ada orang yang menemani dalam proses pendakian ini mereka jadi lebih santai, bahkan bermalas malasan, dan disaat teman/wanitanya menjauh, dia cukup bilang "JANGAN MENUNGGUKU DIPUNCAK, TAPI TEMANILAH AKU MENDAKI !". tahukah anda bahwa beberapa teman wanita saya menunggu prianya samapai bertahun-tahun, dan saya lihat prianya hanya santai dan tidak benar-benar berjuang,
saya setuju dengan kalimat "JANGAN MENUNGGUKU DIPUNCAK, TAPI TEMANILAH AKU MENDAKI !" jika orang yang berkata demikian benar-benar berproses, bahkan dengan adanya teman yang setia saat dia mendaki / berproses menuju kesuksesan dia menjadi lebih giat, lebih kuat, lebih tahan banting. dan tentunya orang seperti ini lebih cepat suksesnya karena dia benar-benar action (bukan hanya berkata-kata) dan ada daya ungkit yaitu orang yang menemaninya mendaki itu ingin dibahagiakannya.
Pertanyaannya, lebih banyak mana orang yang pertama atau kedua ? orng yang hanya berkata-kata atau yang benar-benar action?
masalahnya bagaimana dengan yang tidak ada yang menemani saat berproses / mendaki ? apakah mereka tidak ada hak untuk menuju puncak ?
menurut saya, saat sendiri ada atau tidaknya yang menemani, tetaplah berproses karena ini yang namanya kemandirian, tetap lewati rintangan hingga kita menuju sukses. dan saat kita sukses tentu akan banyak yang mendekat / menemani. dan saat itu lah kita bisa memilih mana yang benar-benar untuk bersama kita..
*Artikel ini saya tulis bukan karena saya tidak setuju dengan kalimat "JANGAN MENUNGGUKU DIPUNCAK, TAPI TEMANILAH AKU MENDAKI !", tapi saya kurang setuju dengan orang yang menggunakan kalimat tersebut (entah dalam hal bisnis ataupun dalam hal romansa) tapi bermalas-malasan, karena dari beberapa orang yang saya kenal banyak juga yang berproses saat sendiri dan akhirnya meraih sukses, dan bahkan orang yangberprosessaat sendiri ini biasanya orangnya lebih kuat dan tahan banting saat menghadapi suatu masalah.
so, sendiri atau punya teman saat berproses (mendaki) , tetaplah fokus pada tujuan (puncak)
Kamis, 06 Oktober 2016
SAYA DAN FILM KARTUN
Sungguh beruntung kita
yang lahir generasi tahun 90an, karena disaat itu sinetron tidak sebanyak
sekarang, dahulu setiap malam masih banyak film yang layak ditonton oleh
anak-anak, berbeda dengan zaman sekarang, anak-anak SD tontonannya adalah
sinetron percintaan, dimana banyak adegan yang tidak pantas dilihat oleh
anak-anak. Bahkan zaman sekarang sudah tidak ada lagi penyanyi-penyanyi cilik,
dimana anak-anak sekarang lebih banyak mendengarkan lagu percintaan dewasa.
Dimasa kecil dulu kita
pasti sering menonton cerita kartun, dimana kebanyakan kartun ditayangkan pada
hari minggu. Sampai sekarang saya masih suka nonton beberapa film kartun. Satu
hal yang sangat saya suka dari film kartun adalah semangat pantang menyerang
dari pemeran kartun tersebut. Bagi saya kartun adalah sebuah moodmaker yang
hebat. Beberapa kartun favorit saya, detective conan, dragonball, tsubasa, lets
and go, naruto,one piece dll..
Akhir-akhir ini saya
lagi senang-senangnya menuntun kartun One Piece. Sebuah kartun yang bercerita
tentang seorang bajak laut yang ingin menjadi seorang raja bajak laut dan pergi
mencari harta karun bernama one peice.
Saya sedikit lambat mengenal kartun ini. Saya mulai mengenal kartun ini karena
penasaran setelah teman wanita saya bercerita tentang one piece. Memang aneh
jika seorang wanita suka nonton kartun, biasanya mereka nonton sinetron atau
drama korea J .
Saya sangat menyukai
kru bajak laut ini karena semua orang di kru tersebut selalu bersemangat.
Karena saya sangat suka dengan sikap optimis. Dan satu lagi hal yang paling
saya suka adalah adanya pengakuan dan kepercayaan terhadap kekuatan teman. Iya,
kepercayaan ! setiap orang pasti sangat senang jika banyak orang yang percaya.
Orang yang jarang diberi kepercayaan atau diremehkan bisa mengakibatkan orang
tersebut jadi minder dan mentalnya lemah.
Memberi kepercayaan
sendiri adalah salah satu cara terbaik untuk memotivasi orang lain, dan saya
senang melihat kekompakan dari kru bajak laut dicerita one piece ini. Saya
sangat mengagumi pemeran utama luffy, orang yang eksentrik,penuh semangat,
konyol dan lucu. Saya kagum dengan sikap percaya diri dan keyakinannya untuk
menjadi raja bajak laut., optimis adalah sikap seorang pemimpin sejati.
Tim yang hebat pasti
mempunyai pemimpin yang hebat, saya percaya akan hal ini. Optimis dan
rasapercaya diri yang dibawa oleh sang
pemimpin akan membuat tim juga jadi lebih optimis karena emosi itu menular. Saya
pernah membaca dikitab tauhid kalau pesimis itu mendekati kekufuran. Jadi bagi
yang ingin jadi pemimpin suatu kelompok jangan lupa untuk terus optimis dan
percaya diri., karena TIM YANG HEBAT PASTI MEMPUNYAI PEMIMPIN
YANG HEBAT… dan sekuat-kuatnya
pasukan, pada saat kebingungan mereka akan menoleh dan menunggu perintah sang
Pemimpin.
Diartikel selanjutnya
saya akan menceritakan pengalaman merepotkan saya memimpin tim menaklukkan
gunung tertinggi kalsel..
Sabtu, 02 April 2016
Cerita Penulisan
"Yang terucap akan
lenyap, yang tercatat akan teringat…"
"Tulislah apa yang
difikiranmu, mungkin tidak akan berguna sekarang, tapi suatu hari pasti akan
berguna…"
Kata-kata bijak diatas
memberi saya inspirasi untuk selalu mencatat hal-hal yang menurut saya penting,
karena kata kata diatas saya jadi suka mencatat dan menulis, terkadang saat
saya terfikir tentang sesuatu saya sering mencatatnya di buku catatan kecil
atau kadang saya juga mencatatnya dihandphone.
Berawal dari catatan
catatan kecil tersebut saya membuat blog ini, dimana dalam membuat blog ini
tulisan-tulisan di dalamnya saya maksudkan sebagai pengingat bagi diri saya
sendiri dan juga untuk berbagi manfaat
dari ide-ide saya tersebut kepada para pembaca.
Didalam menulis ada
kalanya saya punya banyak ide, dan ada kalanya juga saya kehabisan ide,
sehingga blog ini pun seperti mati suri. Dalam menyelesaikan sebuah tulisan
saya terkadang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, karena saya kehabisan
ide untuk membuat tulisan tersebut. Kadang saya hanya bisa membuat satu
paragraf saja, kemudian beberapa bulan kemudian saya hanya bisa menambah satu
paragraf saja, sehingga memakan waktu lama untuk menyelesaikan sebuah tulisan,
karena saya tidak pernah memaksa sebuah tulisan
harus selesai dalam satu waktu tertentu.
Sebenarnya saat blog
ini mati suri, saya masih punya stok
tulisan yang bisa diterbitkan, Cuma saya punya sedikit masalah dengan koneksi
internet sehingga saya merasa malas untuk menerbitkan tulisan baru. Ditambah lagi
beberapa tulisan tersebut masih belum selesai 100%. Saya seperti kehilangan
semangat untuk menulis lagi, padahal di catatan saya sudah banyak tertera
ide-ide cerita yang akan saya buat tulisannya, hanya saja saya seperti malas
berfikir mengembangkan ide-ide tersebut jadi sebuah tulisan.
Dalam menulis sebuah
tulisan, selain memerlukan ide atau tema yang akan kita bahas, saya juga perlu
membayangkan sebuah peristiwa atau alur cerita dan memikirkan kata-kata yang
pas agar cerita tersebut bisa dicerna dengan baik oleh pembaca.
Pada akhirnya saya
hanya berharap semoga blog bermanfaat untuk saya dan untuk para pembaca. Semoga
kita semua bisa berkembang jadi orang yang lebih baik lagi..Aamiin
Rabu, 27 Mei 2015
Bahaya Menulis Keluhan di Media Sosial
Disadari atau tidak,
diakui atau tidak kita begitu mudah mengeluh. Kadang Kita merasa seakan-akan
bahwa masalah yang saat ini kita hadapi adalah masalah terbesar di dunia. Padahal
hal itu membuat diri kita selalu memancarkan energi negatif. Dimana sekarang
ini orang yang selalu memancarkan energi positif sangat langka keberadaannya.
Setiap orang pasti
memiliki masalah, baik pria atau pun wanita, hal ini karena kita pasti punya
emosi. Tapi emosi kita tidak boleh dikendalikan oleh masalah yang kita hadapi
ini. Jangan pernah mengeluh, marah, galau, menunjukkan kekesalan dan sakit hati
ataupun menyalahkan orang lain. Jangan pernah melakukan hal tersebut dihadapan
orang lain. (Baca postingan saya sebelumnya
“berbicara dengan tuhan”).
Dan juga jangan pernah
status di facebook, twitter ataupun media sosial anda yang lain tentang masalah
yang anda hadapi atau tentang betapa galaunya hidup anda, setiap orang yang
membaca status anda akan jadi ilfeel pada anda karena hal ini menunjukkan kalau
anda hanyalah orang lemah yang tidak bisa mengendalikan emosi.
Memang kita memiliki
hak penuh untuk menggunakan dan memanfaatkan akun pribadi kita, tapi tidak kah seharusnya
kita berfikir ada dampak-dampak negatif yang dihasilkan jika sering menjadikan
akun pribadi sebagai tempat mengeluh. Hal ini tidak hanya akan berdampak
negatif pada diri sendiri tapi juga pada orang lain.
Saya sendiri juga
sering mengenal orang-orang yang suka menulis masalahnya dimedia sosial, dan
saya juga (DULU) sering melakukan hal itu, setelah saya mengerti bahwa hal itu
punya efek negatif saya hampir tidak pernah melakukannya lagi, terkadang saya
tertawa sendiri mengingat status-status saya dulu dimedia sosial. J
Ketika membaca status
orang lain yang berisi keluhan dan sumpah serapah, terkadang saya merasa lucu
dan saya tertawa melihat orang seperti ini. Hal paling saya ingat adalah saat
teman wanita SMA saya menulis status di FB tentang sakit hatinya terhadap pria,
hampir 30 menit dia menulis status Menyumpahi para pria dengan kata-kata yang
tidak tersensor, karena merasa terganggu dan tersiggung terpaksa dia saya hapus
dari daftar teman FB saya. J
Bahkan saya pernah
tidak habis fikir saat membaca seorang anak menulis status menyumpahi orang
tuanya.
Ketika kita mengeluh
ada energi negatif yang merasuk pada otak, dan saraf akan meresponnya sehingga
perasaan kita akan semakin kacau. Ketika kita menjadi badmood akan ada hal
negatif lain yang akan terjadi pada kita
misalnya kita jadi malas, lebih emosional ataupun hal negatif lain yang akan memperburuk
keadaan
Selain itu, Orang yang
sering mengeluh akan terliht seperti orang yang tidak bersyukur dan putus asa.
Orang lain akan memandang kita sebagai pribadi yang buruk karena tidak pernah
bisa mengambil hikmah dan pelajaran positif akan hal yang terjadi pada dirinya.
Sehingga bisa jadi satu per satu teman kita akan menjauh karena mereka
menganggap kita orang yang akan membawa pengaruh negatif pada dirinya
Orang hebat adalah
orang cool yang tidak pernah dikendalikan emosi
“APA YANG KITA TULIS
DI MEDIA SOSIAL SECARA TIDAK LANGSUNG BISA MENJADI BAHAN PENILAIAN
ORANGTERHADAP DIRI KITASENDIRI”
Orang Hebat yang Saya
Kenal tidak pernah menulis masalah dan keluhan nya di status media sosialnya…!
End
Langganan:
Postingan (Atom)